31
Jan
12

Hard Decision.. Resign

Alhamdulillah per tanggal 28 Desember 2011, Surat Keputusan ane keluar dari perusahaan dirilis, dan per tanggal itu pula ane terhitung tidak bekerja lagi di dunia perbankan. Hiks, sedih harus meninggalkan keluarga besar ane di tempat kerja. Pada suasana yang sangat kondusif, pimpinan yang TOP BGT, rekan-rekan kerja yang support dan kekeluargaan banget. Ane sebagai anak perantauan serasa dapat keluarga baru di Jakarta. Mak-mak baru, kakak baru, mas baru, adik baru, sodara-sodara semua lah. Dan tentu saja sangat berat meninggalkan mereka. Meninggalkan rutinitas harian, ketemu nasabah, kadang kena omel, adrenalin terpacu kalau load kerjaan lagi banyak, lembur berkas ngga kelar-kelar, bikin laporan-laporan awal bulan yang bikin lumayan mumet bin nyut-nyutan. Pokoknya tanggal 1 sampai dengan 10 adalah tanggal dimana guyon dikurangi, kerjaan tambah, tidur tak nyenyak, tapi Alhamdulillah makan tetep enak.

Itu semua demi suami tercinta. Demi keluarga kecil kami. Konsekuensi dari keputusan menikah.  Ngga mungkin saya kerja tapi suami (kayanya) ngga ridho. Suami bilangnya sih terserah mau keluar kapan. Tapi nanya mulu, malah pas lebaran 2011 kemarin uda nanyain “Mi, surat resignnya uda dikirim”. Hayyahh, waktu itu ngomongin aja belum clear, uda tembak langsung. Awalnya saya yang ngebet ingin keluar kerjaan dan menemani suami yang waktu itu masih dinas di Tegal, tapi awalnya suami masih bilangnya ntar dulu aja, umpul-umpul sek. Tapiii, begitu dirinya dipindah ke Puertorico, aka Purwokerto, langsung deh kerasa sendirian, jauh, ngga ada keluarga. Kalau di Tegal banyak teman dekatnya, ke Semarang gampang, ke Jakarta gampang juga dan tiket murah, jadi ngga kerasa. Akhirnya setelah melalui proses istikharoh dan memantapkan hati untuk resign, baru bilang ke pimpinan. Awalnya saya Cuma kasih sinyal-sinyal dulu, dan rata-rata nganggepnya Cuma angin lalu. Mengejar dunia ngga aka nada habisnya, dan saya piker mau sampai kapan kami akan begini terus, Alhamdulillah kami masih sehat dan ada umur, tapi umur kan siapa yang tau. InsyaAllah niat karena Allah. Karena banyak pertimbangan juga dan saya pikirkan baik-baik plus minusnya. Pasti yang berat juga bilang ke orangtua, awalnya mereka menyayangkan keputusan yang akan saya ambil. Tapi, mom yang menguatkan juga, “kamu kan sudah punya imam sendiri dan bisa mengambil keputusan. Yang penting jangan sampai salah menyalahkan kalau sudah resign. Dipikir baik-baik. Orangtua hanya bisa mendoakan yang terbaik”. Yawes, akhirnya kalau orangtua ridho InsyaAllah semakin mantap. Yaa mungkin ini keputusan kedua terberat yang pernah saya ambil, keputusan pertama ya pas nikah karena itu mengubah segalanya ya pola hidup, ya komitmen, tanggung jawab, dll, dan dari awal mengambil keputusan pertama itu saya sadar ada kemungkinan saya akan mengambil keputusan kedua terberat, yaitu meninggalkan kerjaan. Karena dari hasil ini saya bisa membalas jasa orangtua, walau pasti masih jauuuuuuhhhh sekaliii, karena cinta dan materi yang orangtua keluarkan sepanjang masa dan dari penghasilan kan lumayan buat amal, bantu-bantu and jajan, hiks. Well, InsyaAllah one door closed another door open. Allah yang selama ini menguatkan saya dalam mengambil keputusan-keputusan ini. Doa saya pas harus mengucapkan perpisahan pada rekan-rekan kantor Cuma minta kepada Allah, “Ya Rob kuatkan hamba, hamba melakukan ini semua karena-Mu, insyaAllah ini keputusan terbaik”. Ituuuu aja yang ane ulangi di pikiran kalau pas mau mewek. Alhasil, mewek juga sih, tapi ngga terlalu gero-gero atau kamiseseken, hehe..

Perpisahan saya sekalian ada acara kantor di Garut tanggal 7 Januari 2012 kemarin. That was unforgettable moment. Ada outbond nya segala, rafting, paintball, dll. Kelompok ane juara 1 dong pas paintball. Ane Cuma bagian ngumpet doang sih, hehe. Pas rafting ane pake acara jatuh segala pas ada Boom. Memang pengalaman jatuh dari perahu raftingnya Cuma sepersekian detik aja, dan uda ngga bisa mikir gimana-gimana, yang penting bisa nafas dulu lah. Soalnya pinter berenang juga ngga ngefek, lha wong lawan arus begitu, mana deres, jadi susah mau napak juga. Alhamdulillah ada yang narik saya ke perahu lagi, walau harus berjuang dulu beberapa menit, dan cukup menguras tenaga. Hooossh, masih kerasa rasanya tenggelam. Acara malam, ane harus ngomong lagi on public (I’m a bad public speaker, suara kedengerannya cempreng, padahal pengen banget bisa ngomong lancar jaya didepan banyak orang gitu, udah gitu apa yang udah dibayangin akan diomongin sebelumnya jadi buyaar, bablas angine). Untungnya, ane sempet ngetik-ngetik dikit di BB ane. Mungkin itu terakhir kalinya ane bisa ketemuan dengan temen-temen kantor semua, di acara yang santai, sebelum saya ke Purwokerto saat itu. Jadi ngga mau melewatkan semua nama temen-temen harus disebut. Since I wanna say thank you for all of them, to be part of my story, part of my memories, part of my big familia.

Semoga cabang ane di Pondok Indah bisa lebih maju, lebih berkah, diberi kemudahan, kelancaran dalam bisnisnya. Dan situasi kantor lancar jayaaa, tetap kondusif dalam mencari rezeki dan mendapatkan ridho Allah. Dalam hidup selalu ada pertemuan ada perpisahan, . This is part of life. Part of sunah Rasul, hijrah. Selamat berjuang yaaa rekan-rekankuu. Will miss you all. Thank you so much.


0 Responses to “Hard Decision.. Resign”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: