30
Oct
11

Boleh.. Ngga.. Boleh.. Ngga.. Halal Haram Pemberian Nasabah

Hukum menerima hadiah dari customer/pelanggan/nasabah, dan lain sebagainya. Sebenarnya bagaimana sih hukumnya?.. ane sendiri seringkali terjebak dalam permasalahan terima atau tidak pemberian nasabah, baik itu berupa uang, bingkisan ataupun makanan. Ane bekerja di dunia perbankan. Disini ada nasabah pembiayaan/ kredit dan nasabah DPK atau penabung. Kebanyakan memang seringnya memberikan makanan, karena kami memang akan langsung menolak kalau pemberian itu berupa uang dan kebanyakan pemberi adalah nasabah pembiayaan. Dan kami sering bingung kalau menerima hal seperti itu, walaupun ada juga yang berkata “pamali, nolak rejeki”. Tapi halal atau haramkah rejeki ini.  Sedangkan makanan mempunyai pengaruh yang dominan bagi diri orang yang memakannya, artinya : makanan yang halal, bersih dan baik akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya, makanan yang haram akan membentuk jiwa yang keji dan hewani. Oleh karena itulah, Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan yang haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah baik, tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dan firmanNya yang lain : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit : “Ya Rabbi ! Ya Rabbi! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram,dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya” [Hadits Riwayat Muslim no. 1015]

Disini ane hanya membahas bingungnya terima makanan dari nasabah atau ngga ya, karena kalau berupa uang jelas haram, karena menambah harta dan bisa dikategorikan suap, dan rekan-rekan sekantor ane pun tidak menerimanya. Kami juga sudah memberitahukan untuk tidak memberi dalam bentuk apapun baik uang, makanan atau bingkisan, tapi tetep aja ada yang ngeyel ngasih makanan (*apa kita keliatan kurang makan apa yaa, atau mereka tahu kita-kita tukang ngemil ,hehe). Kalau pengalaman ane selama ini, sepanjang ane tahu makanan itu asalnya dari nasabah terutama yang pembiayaan, ane tidak memakan atau mengambilnya. Kalaupun sudah terlanjur diwadahi untuk dibawa pulang, ane berikan pada orang yang lebih membutuhkan, ane mikirnya biarlah makanan itu bisa menjadi kebaikan berupa pahala dari pemberi/nasabah itu, jika diberikan pada orang yang membutuhkan, InsyaAllah. Memang awalnya, rekan-rekan kantor ada yang agak risih dengan sikap saya yang terkesan sok-sokkan tidak mau menerima makanan pemberian nasabah, tapi InsyaAllah ini untuk kebaikan dan upaya untuk menjaga dari yang haram. Pernah juga ane terima makanan, yang waktu itu isinya otak-otak, bakso dan nugget masing-masing sebungkus yang belum digoreng, waktu itu, karena mau untuk oleh-oleh ane ambil, tapiii tunggu dulu, nanti dikira ane ngga konsisten, memang ane terima, tapi langsung ane bayar, dengan cara membayarnya, karena memang nasabah tersebut juragan bakso, otak-otak dan nugget, jadi secara tidak langsung beliau ini kan penjual, jadi itung-itung beli, langsung ane masukkan ke rekening nasabah tersebut, uang sebesar kemungkinan harga itu, lebih dikit ngga apa-apa, yang penting bisa menjadi halal.

Yang bingung lagi kalau nasabah penabung, karena penabung berdasarkan hubungan baik, dan mereka tidak ada kewajiban yang tertunda. Hasil dari diskusi ane dan kakak ane, mungkin kalau untuk nasabah penabung yang memberikan makanan bisa saja diterima, karena berupa hadiah, dan karena hubungan baik, takutnya malah menyakitkan hati pemberi jika tidak diterima, itupun jarang sekali penabung murni yang memberikan makanan dan tidak ada hal lain yang dia terima, karena penabung kan ya duit duitnya dia sendiri yang ditabungin, inipun hanya opini ane, dan sebaiknya memang tidak diterima juga, Wallahu’alam.

Kenapa disini ane bedakan antara nasabah pembiayaan dan penabung, karena kalau nasabah pembiayaan, mereka dapat fasilitas dari Bank berupa uang yang masih harus mereka angsur tiap bulan, masih ada kewajiban yang harus diselesaikan. Walaupun mungkin, memang mereka murni karena niat baik, rasa terima kasih karena telah memberikan kemudahan dan kepuasan atas pelayanan yang diberikan. Tapi, takutnya ada niat tersembunyi berupa harapan mendapatkan kemudahan kalau nanti mereka macet atau semacamnya. Ada juga rekan yang mau menerima makanan tersebut, karena menurutnya, makanan itu tidak menambah harta kita, menurutnya yang tidak diperbolehkan hanya uang, karena bisa menambah kekayaan dan dikategorikan suap, yang sudah jelas haram hukumnya. Dan menurutnya, agar makanan tersebut tidak mubadzir, karena sudah dibeli oleh nasabah, dan sebagai bentuk itikad baik kita untuk menerimanya, Wallahu’alam.

Untuk lebih lengkapnya tentang hukum seputar suap dan hadiah bisa dilihat di http://almanhaj.or.id/content/2283/slash/0

Disini juga ane copas kan Tanya jawab dari http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkonsultasi&id=2529

HUKUM MENERIMA HADIAH DARI KONSUMEN

Selasa, 20 Oktober 09

Tanya :

Assalamu’alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakatuh

Bagaimana hukumnya menerima hadiah berupa uang atau barang lainnya dari konsumen/pelanggan yg diuruskan sesuatu/perbaikan, padahal kita nolak dan sudah berterus terang bahwa duit yg disetor yang sebenarnya, tapi pelanggan itu memaksa kita untuk mengambilnya dan mengatakan bahwa itu ucapan terima kasih aja.. padahal niat kita tulus karena memang sudah tugas kita dari perusahaan.

Wassalamu’alaikum wa Rahamatullaahi wa Barakatuh

Hormat Saya : A. Arijal

Jawab :

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullahi wa Barakatuh

Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Amma ba’du
Siapa yang tulus membantu tanpa berharap imbalan karena ia memang sudah menjadi tugasnya lalu dia diberi sesuatu sebagai hadiah maka tidak mengapa dia menerimanya, karena sesuatu itu datang sebagai rizki dari Allah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda kepada Umar radhiyallahu ‘anhuyang menolak pemberian beliau:

“Ambillah, jika harta ini datang kepadamu sementara kamu tidak berharap dan tidak meminta maka terimalah dan anggaplah ia sebagai hartamu, kalau kamu berkenan makanlah, kalau tidak sedekahkan kepada orang lain.” (Muttafaq alaihi).

Namun karena Anda menjalankan tugas dari perusahaan dan perusahaan sudah menggaji Anda atas tugas tersebut maka jika uang tersebut Anda terima, Anda harus melaporkannya kepada yang berwenang dalam perusahaan tersebut, sebab uang tersebut tidak datang kepada Anda ketika Anda tidak menjalankan tugas dari perusahaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah meminta seseorang mengurusi zakat, setelah dia pulang dia melapor kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , dia berkata, “Ini harta kalian, sementara harta itu adalah milik saya, hadiah untuk saya.” Maka Nabishallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Mengapa dia tidak duduk di rumah ibunya, kalau memang jujur, sehingga hadiahnya datang kepadanya?”

Maksudnya, laki-laki ini mendapatkan hadiah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikannya sebagai amil zakat, seandainya dia bukan amil zakat, apakah ada orang yang memberinya hadiah? Pertanyaan untuk Anda, andaikata Anda tidak datang kepada pelanggan dalam rangka tugas perusahaan, apakah pelanggan tersebut memberi hadiah kepada Anda?
Shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wassalamu’alaikum wa Rahamatullaahi wa Barakatuh

Sumber :

http://almanhaj.or.id/content/2062/slash/0

http://almanhaj.or.id/content/2283/slash/0

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkonsultasi&id=2529

http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/terima-hadiah-dari-rekanan.htm


0 Responses to “Boleh.. Ngga.. Boleh.. Ngga.. Halal Haram Pemberian Nasabah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: