19
Sep
10

Sindrom Pra Nikah

Bismillah

pernikahanIn my way to half dien, saya merasakan beberapa kali keraguan dalam perjalanan menuju pernikahan. Takut menghadapi  masa setelah pernikahan. Keputusan-keputusan yang biasanya diambil sendiri, sekarang harus ada campur tangan orang lain, pendapat dari orang lain. Ngga hanya dari suami, dari orangtua maupun mertua juga biasanya akan memberikan pendapat. Pas lagi down, saya biasanya sharing ke calon suami ataupun ke kakak yang bekal ilmu agamanya lebih banyak dari saya, juga browsing atau baca tentang persiapan pernikahan, agar ketika saya uda sampai di gerbangnya ngga lagi bingung atau khawatir.

Kata Pak Ari Mooduto pas lagi ngisi sesi pelatihan di kantor beliau bilang bahwa “Learning Process is Never Ending Process”. Yapp, that’s absolutely correct. Learn about anything. Baik itu sesuatu yang baru ataupun sesuatu yang uda kita tau. Karena tau belum tentu paham. Dalam hal ini, pernikahan akan menjadi sesuatu yang benar-benar baru dan saya sama sekali ngga tau bagaimana nantinya. Yah beginilah cewe, mikirnya “Nanti gimana”, sedangkan cowo akan mikirnya “Gimana nanti”. Membayangkan yang belum terjadi, sedang laki-laki kebanyakan berfikir yauda dijalanin aja gimana nantinya seiring dengan proses jalannya pernikahan itu sendiri.

Wahai Rabb Maha Pembolakbalik, tetapkanlah hati ini di atas agamaMu. Pernah pas lagi doooowwn banget, membayangkan kebingungan menghadapi kehidupan pernikahan, sampe saya mo mewek. Harus gimana, harus gimana, padahal dilain pihak, saya uda sangat ingin menikah untuk menggenapi setengah agama, penasaran juga dengan kehidupan berumah tangga. Pernah duluuu banget saya baca, katanya kalau sekarang pas lagi sendirian sabarnya kita satu, nanti kalau sudah menikah sabarnya 1000. Wow, begitu butuh banyak kesabaran dalam pernikahan. Ibarat dua lingkaran yang menjadi satu irisan, saya menggambarkannya seperti ini :

irisan lingkaran

Kita dan pasangan kita kelak akan menyatukan sebagian dari lingkaran untuk menjadi satu bagian sama lain.  Bagian yang mungkin saya ato pasangan suka ato ngga suka. Mungkin bagian ini yang kita pikir susah, dimana kita akan kehilangan part of my things to be our things which called US. Proses menyesuaikan diri dengan kesukaan suami, hal yang tidak disukai suami, yang dilakukan maupun ngga boleh dilakukan. Disini perlunya ilmu agama, dalam proses menyesuaikan diri dengan suami dan dengan kehidupan bersama yang baru.

Bekal ilmu agama itu penting karena dengan berilmu kita akan tahu mana yang diperintahkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan mana yang dilarang, atau mana yang disunnahkan oleh Rasul-Nya dan mana yang tidak sesuai dengan sunnah (bid’ah). Dalam tulisan Pentingnya Ilmu dalam pernikahan dikatakan “Perlu diketahui bahwa sesungguhnya pasangan suami isteri dalam kehidupan berumah tangga akan menghadapi banyak problem dan untuk mengatasinya perlu ilmu. Dengan ilmu, pasangan suami istri tahu apa tujuan yang akan dicapai dalam sebuah pernikahan yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, dan dalam rangka mencari ridha-Nya semata”.

Ini ada beberapa kumpulan hadis shahih yang jadi bahan renungan saya kalo pas lagi down ataupun sebagai motivasi untuk berusaha menjadi istri solehah, bekal untuk meraih surga melalui pernikahan.

Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul Khaththab radhiallahu‘anhu:

Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417)

Saat  Al-Qadhi ‘Iyyadh rahimahullah menjelaskan: Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan harta selama mereka menunaikan zakatnya, beliau memandang perlunya memberi kabar gembira kepada mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah yang cantik (lahir batinnya) karena ia akan selalu bersamamu menemanimu. Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau dapat meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia mentaati perintahmu dan bila engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/mengasuh anak-anakmu.” (dlm buku ‘Aunul Ma‘bud, 5/57)

Kemudian dengarlah titah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)

Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)

Cukuplah keanggunan seorang wanita itu tampak saat ia terjaga di rumah dalam keshalihahannya. Dan hendaknya, para pemuda seperti kita menengok padanya saat akan menikah.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Sedangkan Imam Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini ada anjuran untuk berteman/ bersahabat dengan orang yang memiliki agama dalam segala sesuatu karena ia akan mengambil manfaat dari akhlak mereka (teman yang baik tersebut), berkah mereka, baiknya jalan mereka, dan aman dari mendapatkan kerusakan mereka.” (Syarah Shahih Muslim, 10/52)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur. Ada yang bertanya kepada beliau: Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda: “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436)


0 Responses to “Sindrom Pra Nikah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: